Syekh Ibnu Atha’illah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
https://www.muhammadhabibi.com/2018/12/ibnu-athaillah.html

Seorang ulama termasyhur Syekh Ibnu Atha'illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari, dia dilahirkan di Iskandariah salah satu kota di Mesir pada tahun 648 H/ 1250 M, dan diapun meninggal di Kairo pada tahaun 1309 M. Syekh Ibnu Atha’illah adalah seorang tokoh Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia dan juga di Indonesia.

Sejak dia kecil Syekh Ibnu Atha’illah sudah dikenal rajin belajar. Dia banyak menimba dan belajar ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Salah seorang gurunya yang paling dekat dengan Syekh Ibnu Atha’illah adalah Syekh Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, merupakan murid dari Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri dari tarikat Al-Syadzili.

Di dalam bidang ilmu fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Imam Maliki, sedangkan di dalam bidang ilmu tasawuf Syekh Ibnu Atha’illah termasuk pengikut sekaligus tokoh dari tarikat Al-Syadzili. Dia merupakan salah seorang ulama yang produktif. Karya yang telah di hasilkannya tak kurang dari 20 karya, yang meliputi bidang ilmu tasawuf, ilmu tafsir, ilmu aqidah, ilmu hadits, ilmu nahwu, dan yang terakhir ilmu ushul fiqh. Dari beberapa karya Syekh Ibnu Atha’illah yang paling terkenal  adalah kitab al-Hikam. Yang merupakan salah satu kitab yang banyak di pelajari di seluruh dunia sampai saat ini.

Beberapa kitab lainnya yang ditulis oleh Syekh Ibnu Atha’illah adalah:

Kitab Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, 
Kitab Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, 
Kitab Miftah Al-Falah 
Dan Kitab Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. 

Untuk kitab yang disebutkan terakhir ini merupakan kitab yang beliau karang untuk tanggapan terhadap salah seorang Imam yaitu Syekh Ibnu Taimiyyah tentang persoalan tauhid. Pada dasarnya kedua ulama besar ini yaitu Syekh Ibnu Atha’illah dan Syekh Ibnu Taimiyyah mereka hidup dalam satu zaman, dan terdapat berita bahwa mereka  beberapa kali terlibat didalam dialog yang berkualitas tinggi dan dengan dialog yang sangat santun. Syekh Ibnu Taimiyyah merupakan salah seorang sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara itu Syekh Ibnu Atha'illah serta para pengikutnya melihat tidaklah semua jalan sufisme itu salah. Karena Syekh Ibnu Atha’illah pun sangat ketat dalam urusan syari’at.

Syekh Ibnu Atha'illah juga dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan juga bersih. Dia telah menjadi panutan bagi banyak orang yang ingin meniti jalan menuju kepada Tuhan. Serta beliau menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan Syekh Ibnu Atha’illah pun juga merupakan seorang imam bagi para juru nasihat. Beliau dikenal sebagai seorang guru atauoun Syekh yang ketiga dalam silsilah tarikat Syadzili/Syadziliyah setelah pendirinya terdahulu yaitu Syekh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili serta penerusnya Syekh Abu Al-Abbas Al-Mursi. Selain menjadi guru ketiga dalm silsilah Tarekat Syadziliyah Syekh Ibnu Atha'illah juga merupakan orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran dalam Tarekat, serta pesan-pesan, dan doa hingga biografi kedua Syekh tersebut. Sehingga khazanah ataupun ajaran tarikat Syadziliyah tetap terpelihara sampai saat ini.

Meskipun Syekh Ibnu Atha’illah merupakan tokoh kunci di sebuah Tarekat, bukan berarti aktifitas beliau serta ilmunya hanya terbatas di dalam Tarekat saja. Bahkan buku-buku karangan Syekh Ibnu Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai macam kelompok, yang bersifat lintas mazhab serta Tarekat, terutama salah satu kitab yang dikarangnya yaitu kitab Al-Hikam.

Kitab Al-Hikam inilah merupakan karya utama Syekh Ibnu Atha’illah, yang sangat terkenal didalam dunia Islam selama berabad-abad, hingga hari ini. Dan kitab ini pun juga merupakan bacaan utama banyak pesantren diseluruh Indonesia.

Pada dasranya Syekh Ibnu Atha’illah mengarang kitab Al-Hikam dengan menjadikan sandaran utama yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan disebutkan bahwa Syekh Ibnu Atha’illah yang merupakan guru besar spiritualisme ini telah menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik dalam perjalanannya menuju Tuhan.

Kitab Al-Hikam inipun merupakan ciri khas dari pemikiran Syekh Ibnu Atha’illah itu sendiri, terutama dalam ilmu tasawuf. Karena kedudukan pemikiran Syekh Ibnu Atha’illah bukanlah sekadar bercorak tasawuf falsafi yang hanya mengedepankan teologi. Akan tetapi diimbangi juga dengan unsur-unsur pengamalan ibadah serta suluk, yang mana artinya di antara syari’at,tarekat serta hakikat ditempuh  dengan cara metodis. Corak yang di sampaikan dari pemikiran Syekh Ibnu Atha’illah dalam bidang ilmu tasawuf sangatlah berbeda dengan para tokoh sufi yang lainnya. Beliau lebih menekankan nilai tasawuf  daripada ma’rifat.

Adapun buah dari pemikiran-pemikiran tarekat Syekh Ibnu Atha’illah tersebut adalah: 

1. Tidaklah dianjurkan pada setiap muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka seblemumnya. Di dalam hal ini termasuk juga pandangannya mengenai pakaian, dan makanan,  serta kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan bisa menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan akan mengenal rahmat Allah SWT semata. Karena menurut pandangan beliau meninggalkan dunia yang secara berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur pada Allah. Begitupun jika berlebih-lebihan dalam menggunakan serta memanfaatkan dunia akan membawa kepada sifat kezaliman. Karena manusia itu haruslah menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kata Syekh Ibnu Atha'illah.

2. Tidaklah bagi para murid mengabaikan ilmu syari’at Islam. Karena Syekh Ibnu Atha’illah merupakan seorang tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Imam Al-Ghazali, yakni suatu ajaran tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan melakukan  pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta dengan pembinaan moral (akhlak), merupakan suatu ajaran tasawuf yang dikenal cukup moderat.

3. Menurut beliau Zuhud tidaklah berarti harus menjauhi segala yang berhubungan dengan dunia akan tetapi pada dasarnya zuhud menurut beliau yaitu mengosongkan hati selain dari pada Tuhan dan yang ada hanya Allah saja. Karena menurut banyak sufi dunia yang dibenci oleh para sufi adalah dunia yang melalaikan serta memperbudak manusia. Karena bagi mereka kesenangan dunia yaitu tingkah laku syahwat, dan berbagai keinginan yang tak kunjung selesai, serta hawa nafsu yang tak pernah kenal puas. "Semua itu bagi mereka hanyalah permainan dan senda gurau belaka yang akan membuat manusia melupakan Allah SWT. Dan dunia seperti inilah yang dibenci oleh kaum sufi," ujarnya Syekh Ibnu Atha’illah. 

4. Menurut Syekh Ibnu Atha’illah tidaklah ada halangan ataupun larangan bagi kaum salik untuk menjadi orang yang kaya raya, dengan satu syarat hatinya tidak pernah bergantung pada harta yang telah dimiliknya. Bagi seorang salik di perbolehkan mencari harta kekayaan, namun jangan sampai harta tersebut membuatnya lalai dari Allah SWT dan jangan pula seorang salik sampai menjadi hamba dunia. Menurut Syekh Atha'illah, seorang salik tidaklah pernah bersedih ketika kehilangan harta benda begitu pula salik tidak akan pernah dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta, itulah salik yang sesungguhnya.

5. Senantiasa berusaha merespons apa saja yang sedang mengancam kehidupan umat, serta berusaha juga menjembatani antara keringnya spiritual yang sering dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi saja.

6. Dalam ajaran tasawuf  meakukan latihan-latihan jiwa dalam rangka untuk ibadah dan untuk menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Bagi Syekh Ibnu Atha'illah, tasawuf itu memiliki empat aspek yang sangat penting yaitu berakhlak dengan akhlak Allah SWT, selalu mengerjakan perintah-Nya, dapat mengendalikan hawa nafsunya serta senantiasa berupaya agara selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.

7. Di dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, Syekh Ibnu Atha’illah berpendapat bahwa ilmu ma’rifat adalah merupakan salah satu tujuan dari ajaran tasawuf yang bisa di dapat dengan dua jalan, yang pertama mawahib, atau disebut jugayaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia telah memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut, dan yang kedua makasib, yaitu ma’rifat akan bisa diperoleh melalui usaha keras seseorang ataupun seorang salik, melalui ibadah ar-riyadhah, ibadah dzikir, senantiasa wudhu, selalu berpuasa, mengerjakan shalat sunnah serta amal shalih lainnya.

Dari berbagai sumber.
Di tulis ulang oleh : Muhammad Habibi 

Post a Comment

0 Comments