Beda Ilmu dan Makrifat | Syekh Abu Yazid Al-Busthami

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيم

Tasawuf : Beda Ilmu dan Makrifat | Syekh Abu Yazid Al-Busthami
Image: KH. Lukman Hakim

Kali ini izinkanlah saya dengan segala kekurangan ingin membahas tentang ilmu dan makrifat, sebagai mana yang pernah di katakana, “Bahwa ilmu menyadarkan manusia akan adanya Allah sedangkan makrifat membawa manusia kehadirat-Nya”. Ilmu bisa diperoleh dengan mencari, mempelajari, menelaah sehingga memperoleh sebuah kesimpulan dan dengan kesimpulan itu pula disebut sebagai pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu maka diperlukan panca indera sebagai media penerimanya.

Sedangkan ilmu Makrifat tidak dapat diperoleh lewat pencarian dan penelitian, dan tidak pula lewat hasil diskusi dan membaca juga lewat kajian-kajian. Karena sejatinya berpuluh tahun kita mempelajari ilmu makrifat dan beribu buku dibaca tidak akan mengantarkan kita kepada makrifat. Itu hanyalah sebagai jalan kita untuk mengetahuinya saja. 

Ilmu Makrifat yang dimaksudkan adalah Makrifatullah yang mana sering disederhanakan artinya menjadi mengenal Allah. Makrifat bisa juga diartikan sebagai sebuah kondisi dimana manusia benar-benar telah mengenal siapa akan Tuhan sehingga tidak akan ada sedikitpun keraguan dalam hatinya bahwa sesuatu yang diyakini itu benar-benar Allah. Hal ini pernah diungkapan oleh Syekh Abu Yazid Al-Busthami ketika beliau ditanya tentang makna makrifat, Beliau kemudian menjawab, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa yang aku saksikan adalah Allah”

Makrifat dalam pandangan Syekh Abu Yazid Al-Busthami adalah Penyaksian (Musyahadah), sebagai syarat awal untuk bisa dikatakan seseorang telah mengenal Tuhannya. Syarat seseorang bisa disebut sebagai muslim apabila telah mengakui Allah dan Rasul-Nya dalam sebuah kalimat pendek, “Aku Bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah Rasul-Nya”.

Tahap selanjutnya menurut Syekh Abu Yazid Al-Busthami tentu kalimat itu bukan sekedar diucapkan, akan tetapi kita benar-benar telah menyaksikan Allah SWT dan telah menyaksikan Muhammad sebagai Rasul sehingga kita tidak tergolong sebagai orang yang bersaksi palsu.

Makrifat hanya bisa didapatkan lewat mujahadah dalam dzikir dan ibadah, sehingga akan sampailah rohaninya kepada alam Rabbani sehingga sang Hamba menyaksikan akan keagungan Dzat Allah yang sulit terungkap lewat kata-kata apalagi dengan pandangan panca indra yang terbatas. Tahap ini hanya bisa diperoleh dengan bimbingan Seorang Wali Allah yang sudah sering bolak-balik ke sana sehingga bisa dengan teliti membimbing para murid Beliau untuk menempuh perjalanan kesana.

Jika ada sebuah karangan yang mengupas tentang makrifat, itu hanyalah ilmu makrifat bukan makna dari makrifat itu sendiri. Dengan seantiasa membaca buku tentang ilmu makrifat akan menambah pengetahuan kita tentang makrifat akan tapi tentu saja tidak bisa membawa rohani kita sampai ke alam makrifat itu sendiri.

Karena yang menjadi kunci untuk bisa sampai ke alam Rabbani adalah lewat bimbingan seorang yang ahli atau wali Allah, maka sebagai pencari kita berdoa agar Allah dengan sifat pengasih dan penyayangNya berkenan memperkenalkan kita kepada seorang kekasih-Nya, Ulama pewaris Nabi yang ikhlas tanpa pamrih membimbing kita untuk mengenal Allah SWT. 

Kita senntiasa berdoa semoga Allah SWT memperkenalkan kita kepada sosok ulama yang benar-benar mewarisi Nur Muhammad sebagai syarat utama yang bisa menuntun rohani manusia, bukan hanya sekedar ulama mencari ilmu lewat membaca ataupun ulama yang disebut ulama karena pakaian dan tampilan fisiknya semata.

والله أعلم

*Tasawuf

Post a Comment

0 Comments