Tarekat Rifa’iyah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

https://www.muhammadhabibi.com/2019/02/tarekat-rifaiyah.html

Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh salah seorang ulama yang terkemuka yaitu Syekh Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifa’i. beliau dilahirkan di Negara Irak bagian selatan, tepatnya di Qaryah Hasan, dekat Basrah, sekitar pada tahun 1106 M. Namun, ada pula sebagian kalangan yang menyebutkan, Syekh Ar-Rifa’i dilahirkan pada 1118 M.

Syekh Ar-Rifa’I mendapatkan gelar muhyidin (penghidup agama) dan sayyid al-‘arifin(penghulu para arif). Beliau terkenal dengan tingkat spiritualitasnya yang sangat tinggi. Menurut sejumlah literatur, Syekh Ar-Rifa’i ini juga dikenal sebagai ulama yang sangat tawadhu dan sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT. 

Bahkan, bagi sejumlah pengikutnya meyakini Syekh Ar-Rifa’i mendapat anugerah dari Allah SWT sebagai salah satu ulama yang mampu menyembuhkan penyakit lepra, kebutaan, dan lainnya. Sejak beliau kecil, dia sudah memiliki berbagai keistimewaan. Saat usia beliau 21 tahun, beliau sudah mendapatkan ijazah dari pamannya untuk mengajar. 

Baca Juga:

Tarekat Rifa’iyah juga merupakan salah satu Tarekat sufi Sunni yang memainkan peran penting dalam pelembagaan sufisme. Di bawah bimbingan Ar-Rifa’i, tarekat ini tumbuh dengan subur. Dalam waktu yang tidak begitu lama, tarekat ini sudah berkembang luas hingga ke luar Irak, di antaranya ke negara Mesir dan Suriah. Hal tersebut di karenakan murid-murid tarekat ini menyebar ke seluruh Timur Tengah.

Dalam perkembangan Tarekat Rifa’iyah yang selanjutnya, Tarekat Rifa’iyah juga berkembang di kawasan Anatolia di Turki, Eropa Timur, wilayah Kaukasus, serta kawasan Amerika Utara. Para murid Tarekat Rifa’iyah membentuk cabang-cabang baru di tempat-tempat tersebut. Sesudah sekian lama, jumlah dari cabang Tarekat Rifa'iyah selalu meningkat dan posisi Syekh pada umumnya turun-temurun.

Tarekat Rifa’iyah ini juga tersebar luas di Indonesia, misalnya di daerah Aceh terutama yang mana pada bagian barat dan utara, dan di pulau Jawa, Sumatera Barat dan Sulawesi. Namun, untuk di daerah Aceh sendiri, tarekat ini lebih dikenal dengan sebutan Rafai, yang memiliki makna tabuhan rabana yang juga berasal dari perkataan pendiri dan penyiar tarekat ini.

“Pada masa akhir kekuasaan Turki Usmani (Ottoman), Tarekat Rifa’iyah merupakan tarekat yang sangat penting. Keanggotaannya bahkan meliputi sekitar tujuh persen dari jumlah orang yang masuk tarekat sufi di Istanbul”.

Syekh Ahmad Rifa’i wafat pada 587 H.

*Dari Berbagai Sumber 

Post a Comment

0 Comments