Tarekat Qodiriyah

بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِيمِ


Berkembangnya sebuah Tarekat didalam Islam sebenarnya bersamaan dengan lahirnya agama Isalm sendiri. Dimana sejak Nabi Muhammad saw telah diutus menjadi Rasulallah. Fakta dan bukti dalam peradaban  sejarah Islam menunjukkan bahwa sejatinya pribadi Nabi Muhammad SAW sebelum Baginda Nabi diangkat menjadi Rasul sudah berulang kali melaksanakn tahannust dan khalwat di Gua Hira’ untuk mengasingkan diri dari penduduk kota Makkah yang bersifat jahiliyah yang sedang terlena mengikuti hawa nafsu keduniaan. 

Dalam proses khalwat yang di lakukan Nabi Muhammad SAW yang kemudian dinamakan Tarekat tersebut sekaligus Beliau ajarkannya kepada Sayyidina Ali RA. Dan dari situ pulalah akhirnya Sayyidina Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya hingga kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani, dan kemudian tarekatnya tersebut dinamai Tarekat Qodiriyah. Sebagaimana yang telah di sebutkan dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya hingga sampai pada Nabi MuhammadSAW, melalui Malaikat Jibril dan dari Allah Swt.

Tarekat Qodiriyah merupakan sebuah nama tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi QS. Untuk Tarekat Qodiriyah itu sendiri berkembang dan berpusat di Negara Iraq dan Syria kemudian diikuti pula oleh jutaan umat muslim yang tersebar di berbagai negara seperti di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika serta Asia. 

Tarekat Qodiriyah telah berkembang sejak lama tepatnya pada abad ke-13. Meskipun  Tarekat Qodiriyah  sudah berkembang dari abad ke-13, akan tetapi tarekat ini baru terkenal di dunia yaitu pada abad ke 15 M. Dari berbagai sumber mengatakan bahwa di kota Makkah, tarekat Qodiriyah telah berdiri sejak tahun 1180 H/1669 M.

Syekh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS, merupakan urutan ke 17 dari mata rantai emas mursyid Tarekat Qodiriyah . karena sesungguhnya garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini yaitu berasal dari Sayidina Nabi Muhammad Rasulullah SAW, dan kemudian turun temurun berlanjut melalui Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra, dan selanjutnya Sayidina Al-Imam Abu Abdullah Al-Husein RA, lalu kepada Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin RA, dan diteruskan lagi pada Sayidina Muhammad Baqir RA, dan Sayidina Al-Imam Ja'far As Shodiq RA, kemudian Syekh Al-Imam Musa Al Kazhim, Syekh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido, Syekh Ma'ruf Al-Karkhi, Syekh Abul Hasan Sarri As-Saqoti, dan Syekh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi, Syekh Abu Bakar As-Syibli, dan selanjutnya pada Syekh Abul Fadli Abdul Wahid At-Tamimi, Syekh Abul Faraj Altartusi, Syekh Abul Hasan Ali Al-Hakkari, Syekh Abu Sa'id Mubarok Al Makhhzymi, dan yang selanjutnya barulah pada Syekh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS.

Pada dasarnya Tarekat Qodiriyah ini sudah dikenal luwes. Yaitu apabila seorang murid sudah bisa mencapai pada derajat syekh, maka murid tersebut tidak akan mempunyai suatu keharusan agar terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan seorang murid tersebut sudah berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya tersebut. Hal yang demikian itu seperti tampak pada ungkapan yang pernah di sampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa seroang murid yang telah mencapai derajat gurunya, maka dia pun bisa jadi mandiri sebagai syekh dan Allah SWT lah yang akan menjadi walinya untuk seterusnya."

Dan dengan keluwesan Tarekat Qodiriyah  tersebut, sehingga sangat banyak yang bisa kita jumpai yang termasuk dalam kategori Tarekat Qidiriyah didalam dunia Islam. Sebut saja seperti Negara di Turki terdapat tarekat Hindiyah, Tarekat Khulusiyah, dan lain sebagainya. Serta di Negara Yaman terdapat tarekat Ahdaliyah, Tarekat Asadiyah, Tarekat Mushariyyah. Sedangkan di Negara Afrika di antaranya ada Tarekat Ammariyah, dan Tarekat Bakka'iyah, dan lain-lain.

Untuk di Negara Indonesia sendiri, untuk pencabangan dari Tarekat Qodiriyah ini secara khusus dilakukan oleh Syekh Achmad Khotib Al-Syambasi yang digabungkan dengan dengan sebuah Tarekat yaitu Tarekat Naqsyabandiyah dan namanya menjadi Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah . Dan kemudian garis salsilah Tarekatnya di ambil salah satunya melalui Syekh Abdul Karim Tanara Al-Bantani dan berkembang pesat di seluruh Indonesia sampai saat ini. 

Syekh Ahmad Khatib juga memiliki banyak wakil, yang di antaranya yaitu: Syekh Abdul Karim yang berasal dari Banten, serta Syekh Ahmad Thalhah asal dari Cirebon, kemudian Syekh Ahmad Hasbullah asal dari Madura, dan Muhammad Isma'il Ibn Abdul Rahim berasal dari Bali, serta Syekh Yasin dari Kedah Negara Malaysia, dan Syekh Haji Ahmad dari Lampung Sumatra serta Syekh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib yang berasal dari Palembang Sumatra. Dan semua Syekh-syekh tersebut kemudian menyebarkan serta mengajarkan ajaran tarekat ini di daerah masing-masing.

Sedangkan untuk penyebaran ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah di daerah Sambas Kalimantan Barat yaitu asal Syekh Ahmad Khatib ini dilakukan oleh dua orang yang menjadi wakilnya yaitu Syekh Nuruddin yang berasal dari Philipina dan Syekh Muhammad Sa'ad yaitu putra asli Sambas. Baik di daerah Sambas sendiri, ataupun di daerah-daerah yang lainnya seperti di luar pulau Jawa, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah tidaklah dapat berkembang secara baik. Karena keberadaan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah ini di luar pulau Jawa, dan termasuk di beberapa negara tetangga yang berasal dari kemursyidan yang ada di pulau Jawa tersebut. Penyebab dari ketidak berhasilan penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah ini di luar pulau Jawa ialah karena tidak adanya sebuah dukungan ataupun sebuah lembaga permanen seperti pesantren.

Semenjak Syekh Ahmad Khatib wafat pada tahun 1878, pengembangan dari Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah ini dilakukan oleh salah seorang wakil beliau yaitu Syekh Tolhah bin Talabudin yang bertempat di kampung Trusmi Desa Kalisapu Kabupaten Cirebon. Dan selanjutnya Beliau pun disebut sebagai Guru Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah untuk di daerah Cirebon dan sekitarnya. 

Salah seorang dari pada muridnya yang bernama Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang kemudian akhirnya dikenal sebagai Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya. Sesudah berguru sekian lama, maka di saat usianya 72 tahun , beliau mendapat khirqah atau bisa di sebut juga “pengangkatan secara resmi sebagai guru dan sebagai pengamal”  Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dari gurunya yaitu Guru Agung Syakh Tolhah Bin Talabudin yang dalam silsilah beliau adalah urutan ke 35.  

Dan seterusnya Pondok Pesantren suryalaya menjadi sebuah tempat untuk bertanya tentang Thoreqat Qodiriyah Naqsabandiyah. Dengan demikian pula, Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad RA. Yang mana dalam silsilah Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah beliau berada pada urutan ke 36 setelah gurunya yaitu Syaikh Tholhah bin Talabudin RA.

Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad di kalangan para murid-muridnya beliau lebih dikenal dengan sebutan "Abah Sepuh". dikarenakan usia beliau memang sudah tua ataupun sepuh, saat itu usia beliau sekitar 116 tahun. Dan di antara murid-muridnya ada yang paling bagus dan memenuhi syarat untuk melanjutkan kepemimpinan beliau.  Murid tersebut merupakan putranya sendiri yang ke-5 yaitu KH.A. Shohibulwafa Tajul Arifin dan kemudian diangkat sebagai (wakil Talqin) dan sering pula diberi tugas untuk melaksanakan tugas-tugas keseharian beliau. 

Di tulis ulang oleh : Muhammad Habibi

Post a Comment

2 Comments

  1. Tarekat ini sangat banyak bisa dijumpai di daerah saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga kelak akhi bisa mengikutinya...

      Delete

"Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan".